Untitled Document
Untitled Document

 # Home

 # Profil

       Selayang Pandang
       Struktur Organisasi
       Anjungan
       Program Kerja
       Personalia

 # Sosial Budaya

       Mata Pencaharian
       Agama
       Bahasa
       Sistem Kemasyarakatan
       Sistem Kekerabatan
       Sistem Kepemimpinan
       Tata Krama
       Pakain Tradisional
       Lagu Daerah
       Makanan Khas
       Rumah Tradisional
       Permainan Rakyat
       Cerita Rakyat

 # Wisata

       Wisata Alam
       Wisata Budaya
       Wisata Rekreasi
       Wisata Sejarah
       Wisata Minat Khusus
       Wisata Lainnya

 # Kesenian

       Seni Suara
       Seni Tari
       Seni Teater
       Seni Lukis
       Seni Ukir
       Seni Sastra

 # Upacara Adat

       Upacara Daur
       Hidup Manusia
       Upacara Adat
       Bertani
       Upacara Adat
       Keagamaan
 # Agenda
       Rutin
       Khusus
 # Galery
       Video
       Photo
# Data
       Pengrajin
 
 
Untitled Document
Geografi Jawa Barat

Jawa Barat terletak di bagian Barat Pulau Jawa yang dibatasi oleh laut Jawa  dan DKI Jakarta di sebelah utara, Samudra Indonesia di sebelah Selatan, Propinsi Banten di sebelah Barat, dan Propinsi Jawa Tengah di sebelah Timur. Letak astronomisnya antara 5050’-7050’Lintang Selatan dan antara 104048’-108048’ Bujur Timur. Luas Jawa Barat setelah Banten memisahkan diri dari Jawa Barat adalah lebih kurang 34.816,96 km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 39.140.812  jiwa. (BPS tahun 2005).        
                                .
          Topografi Jawa Barat atau ciri utama daratan Jawa Barat adalah bagian dari busur kepulauan gunung api (aktif dan tidak aktif) yang membentang dari ujung utara Pulau Sumatera hingga ujung utara Pulau Sulawesi. Daratan dapat dibedakan atas wilayah pegunungan curam di selatan dengan ketinggian lebih dari 1.500 m di atas permukaan laut, wilayah lereng bukit yang landai di tengah ketinggian 100 - 1.500 m di bawah permukaan laut, wilayah dataran luas di utara ketinggian 0 .- 10 m di bawah permukaan laut dan wilayah aliran sungai. Jawa Barat memiliki gunung berapi yang masih aktif yaitu di antaranya Gunung Ciremai (tinggi  di atas permukaan laut 3.078 m terakhir meletus tahun 1938) yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat, Gunung Gede (2.958 m meletus tahun 1955), Gunung Galunggung (2.168 m meletus tahun 1982), Gunung Tangkuban Parahu (2.084 m meletus tahun 1982).

Di dataran Jawa Barat mengalir sungai utama di antaranya Citarum (268 km), Cimanuk (258,4 km), Cidurian (181,5 km), Cipunegara (148  km), Ciujung (147,2 km), Cisadane (144 km), Citanduy (130 km) dan Ciliwung (118,5 km), di samping itu terdapat beberapa sungai lain yang panjangnya kurang dari 110 km.
 Danau yang dalam bahasa Sunda disebut situ dan waduk banyak terdapat di daerah Jawa Barat baik yang terwujud secara alamiah maupun buatan manusia di antaranya adalah danau  atau situ yang paling dikenal adalah Situ Bagendit di Garut, Situ Gede di Tasikmalaya, Situ Panjalu di Ciamis dan Danau Jatilihur di Purwakarta, Waduk Darma di Kuningan serta Danau Rentang di Indramayu, Situ Cileunca di Pangalengan Bandung, Situ Patenggang di Ciwidey Bandung dan Situ Lembang di Lembang  Bandung.

Iklim di Jawa Barat adalah tropis, dengan suhu 90 C di Puncak Gunung Pangrango dan 340 C di Pantai Utara, curah hujan rata-rata 2.000 mm per tahun, namun di beberapa daerah pegunungan antara 3.000 sampai 5.000 mm per tah 

Flora dan Fauna
            Alam Jawa Barat ditumbuhi tanaman yang dipengaruhi angin musim, tumbuhan tropis yang tumbuh subur di alam Jawa Barat ini sangat banyak jumlahnya. Jenis tumbuh-tumbuhan itu dapat dikelompokan sebagai berikut:

    Tanaman pangan terdiri atas:
  • Tanaman palawija : jagung, ketela pohon, ketela   rambat, kacang tanah, kacang kedelai, Kacang hijau dan wijen;
  • Tanaman sayuran : kentang, kubis, petsai, tomat, wortel, bawang, bawang daun, buncis, lobak;  
  • Tanaman buah-buahan : alpuket, jeruk, dukuh, durian, jambu mangga, nanas, pepaya, pisang rambutan, salak dan  sawo;
  • Tanaman perkebunan : teh, kina, tebu, coklat, kelapa sawit, kopi, cengkeh.
    Tanaman produksi yang terdapat di hutan-hutan seperti : jati   pinus, rasamala, maesipsis, damar, mahoni, bakau dan jabon
    Tanaman hias yang terdiri atas bunga ros, dahlia, sedap malam,                   melati, sinyo nakal, pacar keling  dan nusa indah.
    Tanaman rempah-rempah yakni : lada, pala, cabe dan cengkeh.

 
Tanaman yang sering dipakai dalam adat istiadat di Jawa Barat antara lain adalah : pinang, enau, tisuk, cingkri, caringin, handeuleum, hanjuang, sirih, pandan tikar, pandan masak, kunyit, jaringao, panglay, jawerkotok, padiladang, padi sawah, daun sembung, kumis kucing, tebu, sereh, salam, samoja dan sebagainya.

Alam binatang (fauna) di Jawa Barat dapat dikelompokan sebagai berikut:

  1. Binatang liar yang dilindungi seperti badak, banteng, rusa, babi hutan, kancil, macan tutul, macan, anjing hutan, wauwau, aneka jenis burung dan kera.
  2. Binatang ternak yang dipelihara seperti sapi, babi, kerbau, kuda,  domba, ayam dan aneka jenis unggas.
  3. Perikanan darat dan laut seperti ikan mas, mujaer, sepat siem,            bandeng,  tawes, nilem, gurame, belanak, belut, lele dan  ikan nila.

Sejarah Jawa Barat

          Sejarah  yang dimaksud di sini bersifat umum berdasarkan data atau tulisan terbatas yang digunakan. Menurut data dan penelitian arkeologis Tanah Sunda telah dihuni oleh masyarakat Sunda secara sosial sejak lama sebelum Tarikh Masehi. Situs Purbakala di Ciampea (Bogor), Kelapa Dua (Jakarta), dataran tinggi (Bandung) dan Cangkuang (Garut) memberi bukti dan informasi bahwa lokasi-lokasi tersebut telah ditempati oleh kelompok masyarakat yang memiliki sistem kepercayaan, organisasi sosial, sistem mata pencaharian, pola pemukiman dan lain sebagainya sebagaimana layaknya kehidupan masyarakat manusia betapa  pun sederhananya.

          Era sejarah di Tanah Sunda baru mulai pada pertengahan abad ke-5 seiring dengan  dibuatnya dokumen tertulis berupa beberapa buah prasasti yang dipahat batu dengan menggunakan bahasa  Sansakerta dan Aksara Pallawa. Prasasti-prasasti itu yang diketemukan di daerah Bogor, Bekasi dan Pandeglang dibuat pada zaman kerajaan Tarumanagara dengan salah seorang rajanya bernama Purnawarman dan ibukotanya terletak di Bekasi sekarang. Pada masa itu sampai abad ke-7, sistem kerajaan merupakan pemerintahan, Agama Hindu sebagai agama resmi negara, sistem kasta sebagai bentuk stratifikasi sosial dan hubungan antar negara telah mulai terwujud walaupun masih dalam tahap awal dan terbatas.

          Sriwijaya di Sumatra, India dan China merupakan negri luar yang menjalin dengan kerajaan Tarumanegara, tetapi kebudayaan Hindu dari India yang dominan dan berpengaruh di sini, Sunda sebagai nama kerajaan kiranya baru muncul pada abad ke-8 sebagai lanjutan atau penerus Kerajaan Tarumanagara. Pusat kerajaannya berada sekitar Bogor sekarang. Paling tidak ada dua macam sumber yang menyebut Sunda  sebagai nama kerajaan, pertama dua buah prasasti (Bogor dan Sukabumi); kedua beberapa buah naskah lama (Carita Parahiyangan dan Sanghiyang siksa kendang karesian). Ibu kota kerajaan sunda di namai Pakuan Pajajaran.

          Dalam tradisi lisan dan Naskah sesudah abad ke-17, Pakuan biasa disebut untuk nama ibu kota sedangkan Pajajaran untuk menyebutkan kerajaan. Kerajaan ini hidup kira-kira 6 abad, karena runtuhnya sekitar tahun 1579. Pernah mengalami masa kejayaan antara lain ditandai dengan luas wilayah yang meliputi seluruh Tatar Sunda, kesejahteraan rakyat tinggi, keamanan stabil, hubungn dengan dunia luar (Majapahit, Portugis, Sriwijaya) berjalan baik. Dikenal ada dua raja termasyhur kebesarannya (Prabu Niskala Wastu Kancana dan Sri Baduga Maharaja). Ibu kotanya pernah berada di Kawali, Galuh. Pada masa pemerintahan Prabu Maharaja (1350-1352) terjadi konflik dengan Majapahit, karena masalah pernikahan putri Sunda dengan raja Majapahit Hayam Wuruk

          Pedagang Islam sudah berdatangan ke kota-kota pelabuhan Kerajaan Sunda untuk berdagang dan memperkenalkan ajaran Islam. Lama kelamaan para pedagang Islam bermukim di kota-kota pelabuhan Sunda, terutama di Banten, Karawang dan Cirebon

Periode selanjutnya (sejak abad ke-17) Sejarah Sunda mengalami babak baru, karena dari arah pesisir utara di Jayakarta (Batavia) masuk kekuasaan Kompeni Belanda (sejak 1610) dan dari arah pedalaman sebelah timur masuk kekuasaan Mataram (sejak 1625).

Secara perlahan-lahan tetapi pasti akhirnya seluruh Tanah Sunda jatuh ke genggaman kekuasaan Belanda (sejak awal abad ke-19) karena itu mulailah zaman kekuasaan kolonial Hindia Belanda.

Pada masa ini masyarakat dan Tanah Sunda dieksploitasi oleh kaum kolonial mula-mula dengan menggunakan cara penyerahan wajib hasil bumi tanaman ekspor (lada, nila, kopi) dan kerja paksa (rodi) yang dikenal dengan sebutan Sistem Priangan (Preanger Stelsel), kemudian sejak tahun 1871 melalui cara penanaman modal swasta dengan membuka macam-macam perkebunan (teh, karet, kina), perdagangan, industri, pelayaran, pertambangan dan lain-lain yang tenaga kerjanya (tenaga kerja murah) diambil dari masyarakat pribumi model eksploitasi ini dikenal dengan sebutan Sistem Imperialisme.

Tanah Sunda yang subur dan orang-orangnya yang rajin bekerja menjadikan pengeksploitasian tersebut sangat menguntungkan penguasa kolonial Belanda sehingga membawa kemakmuran yang luar biasa bagi mereka yang tinggal di sini dan yang berada di tanah leluhurnya (Balanda). Sebaliknya rakyat pribumi tidak mengecap keuntungan yang setimpal dengan tenaga dan jasa yang diberikan, bahkan banyak hidupnya menderita, kecuali sekelompok masyarakat kecil yang dekat dan kerjasama dengan penguasa kolonial yang biasa disebut kaum Menak.

Pada sisi lain masuknya penjajahan itu menimbulkan ketidakpuasan dan bahkan penentangan sebagian masyarakat. Di bawah beberapa pemimpinnya timbulah serangkaian perlawanan dan pemberontakan rakyat, seperti yang di pimpin oleh Dipati Ukur di Priangan (1628-1632), Sultan Ageng Tirtayasa dan Pangeran Purbaya di Banten (1659-1683), Prawatasari di Priangan (1705-1708), Kiai Tapa dan Bagus Buang di Banten (1750-1752), Bagus Rangin (1802-1818), Kiai Hasan Maulani di Kuningan (1842), Kiai Washid di Banten (1888), Kiai Hasan Arif di Garut (1918).

Ketidakpuasan masyarakat terus berlanjut, walaupun penguasa kolonial mengupayakan perbaikan kehidupan masyarakat melalui program pendidikan, pertanian, perkereditan dan juga menerapkan sistem otonomi bagi pemerintahan pribumi. Sejak awal abad ke-20 muncul gerakan penentang sosial dan organisasi politik seperti Sarekat Islam, Indische Partij, Paguyuban Pasundan dan Partai Nasional Indonesia.

Melalui pendudukan Militer Jepang (1942-1945) yang menumbangkan kekuasaan kolonial Hindia Belanda (menyerah di Kalijati, Subang tanggal 8 Maret 1942) dan menumbuhkan keberanian di kalangan orang pribumi untuk melawan kukuasaan asing dan memberikan bekal keterampilan berperang, pada tahun 1945 masyarakat Sunda, umumnya masyarakat Indonesia berhasil mencapai dan mempertahankan kemerdekaan. Sejak itu masyarakat dan Tanah Sunda berada dalam lingkungan Propinsi Jawa Barat dan Negara Republik Indonesia.

Perkembangan Sejarah menunjukkan bahwa Propinsi Jawa Barat merupakan Propinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (staatblad Nomor : 378). Propinsi Jawa Barat dibentuk berdasarkan UU No.11 tahun 1950, tentang Pembentukan Propinsi Jawa Barat yang beribu kota di Bandung. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, pemerintah daerah berpedoman pada Undang-undang Dasar 1945, Undang-undang No.5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan di Daerah dan peraturan perundangan lainnya.

Dengan berlakunya undang-undang No.22 tahun 1999 yang lebih dikenal dengan otonomi daerah, maka seluruh daerah di Jawa Barat melaksanakan otonomi daerahnya masing-masing.

Arti Kata Sunda

               Dalam buku Sejarah Sunda karya R. Ma’mun Atmamihardja yang diterbitkan tahun 1958, arti kata Sunda menurut penyelidikannya dapat disimpulkan sebagai berikut :             


Dalam bahasa Sansekereta

:

Sunda artinya bersinar, terang, nama    dewa Wisnu dan  nama satria buta dalam cerita Upa Sunda dan Ni Sunda;

Dalam bahasa Kawi

:

Sunda artinya air, tumpukan, pangkat dan waspada;

Dalam bahasa Jawa

:

Sunda artinya bersusun (menyusun), berganda, kata atau suara, naik dan  terbang.

Dalam bahasa Sunda

:

Sunda artinya bagus, indah, unggul, cantik dan menyenangkan.

 

 
Untitled Document
 


google anjjabar
Untitled Document
 


Untitled Document
 



Untitled Document

Pusat Informasi dan Promosi Pariwisata dan Budaya Jawa Barat
Copyright © All rights reserved by Balai Pengelolaan Anjungan Jawa Barat
E-Mail : info@anjjabar.go.id