|
Pendidikan dan Pelatihan Kesenian Kesenian Jawa Barat Pendidikan dan pelatihan (Diklat) Kesenian Anjungan Daerah Jawa Barat Taman Mini ”Indonesia Indah” mulai melakukan kegiatanya pada tahun 1985. Pada mulanya kegiatan ini hanya terbatas kepada pelatihan gamelan degung, angklung dan rampak kendang dilingkungan para pegawai saja kemudian dikembangkan menjadi pelatihan tari klasik.
|
|
![]() |
Pegawai Anjungan Jawa Barat tampil dalam pementasan Kendang Rampak di Hotel Indonesia dalam Acara Khusus |
|
Salah seorang pelatih tari di Anjungan Daerah Jawa Barat Taman Mini ”Indonesia Indah” saat itu adalah Alm. Bapak Endang S. Kamsi. Diklat Kesenian Anjungan Daerah Jawa Barat Taman Mini ”Indonesia Indah” menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan berbagai jenis kesenian : Seni Tari, Karawitan (degung), Rampak Kendang, Kecapi Suling, Longser dan sebagainya. . |
|
|
Sewaktu
jenis tari Jaipongan merambah ke DKI. Jakarta Pimpinan Sanggar
Tari Jaipongan Jugala di Bandung membuka cabang di Anjungan Daerah Jawa
Barat Taman Mini ”Indonesia Indah”; sejak saat itulah Diklat Seni
Anjungan Jawa Daerah Barat Taman Mini ”Indonesia Indah” berkembang
untuk dapat memenuhi permintaan masyarakat luas mengikuti pendidikan
dan pelatihan tari |
|
|
Penampilan Tari Kreasi di Panggung Pertunjukan Anjungan Jawa Barat TMII |
|
Karena begitu banyaknya peminat untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan ini maka kemudian dibentuk cabang-cabang : Jonggol, Cibubur, Cibening, Jati
Bening, Kramat Jati, Manggarai, Cijantung, Depok, Bekasi
Sebagian
besar para siswa Diklat Kesenian Anjungan
Daerah Jawa Bat Taman Mini ”Indonesia Indah” telah membentuk suatu
paguyuban yang secara berkala mereka mengadakan pertemuan, anatra lain
dalam bentuk arisan, buka puasa bersama, rekreasi dan kegiatan-kegiatan
lainnya.
Saat sekarang
siswa yang aktif mengikuti kurikulum Diklat Kesenian Anjungan Daerah
Jawa Barat Taman Mini ”Indonesia Indah” sebanyak 250 orang di
Anjungandan sekitar 1.000 siswa di berbagai unit dari berbagai
usia yang terdiri dari 8 tingkat yang
secara periodik (6 bulan) masa latihan diadakan kenaikan tingkat
dalam suatu program evaluasi Sedangkan para siswa "lulusan" Diklat Kesenian Anjungan Daerah Jawa Barat Taman Mini ”Indonesia Indah” yang sudah mandiri mereka berkiprah didunia seni tari ditingkat nasional dan sering melakukan pementasan di luar negeri. Diklat Kesenian Anjungan Daerah Jawa Barat Taman Mini
”Indonesia Indah” juga mengikuti berbagai Lomba Tari Kreasi yang
diadakan oleh berbagai kalangan yang pada setiap lomba tersebut selalu
mendapatkan nomor kejuaraan.
|
||
|
Sedangkan untuk jenis pelatihan dan pendidikan tari yang dikatagorikan kepada tari klasik walaupun peminatnya agak lebih sedikit bila dibandingkan dengan jenis tari kreasi (Jaipongan) namun Diklat Kesenian Anjungan Daerah Jawa Barat Taman Mini ”Indonesia Indah” telah dapat menyampaikannya kepada siswa yang berminat. Adapun jenis tari yang dikatagorikan kepada jenis tari klasik antara lain: Merak, Kijang, Anjasmara, Ratu Graeni, Topeng dan sebagainya.
Pada seni
degung, rampak kendang, kecapi suling Diklat Kesenian Anjungan Daerah
Jawa Barat Taman Mini ”Indonesia Indah” juga turut melatih para pegawai
instansi lain atau perkumpulan/organisasi sampai kepada para siswa
tingkat SLTP, SLTA dan mahasiswa. Setiap 3 bulan sekali Diklat Kesenian Anjungan Daerah Jawa Barat Taman Mini ”Indonesia Indah” mendapatkan kesempatan untuk mempergelarkan aneka kesenian garapannya di Anjungan Daerah Jawa Barat Taman Mini ”Indonesia Indah”. Sedangkan pergelaran/pementasan kesenian yang pernah dipercayakan kepada Diklat Kesenian Anjungan Daerah Jawa Barat Taman Mini ”Indonesia Indah” antara lain dalam rangka : a) Pameran Kerajinan Tangan di Pulau Batam. b) Acara-acara Pembukaan Pameran dan Acara Khusus di Balai Sidang Jakarta. c) Acara-acara Peresmian Pembukaan Perusahaan/Gedung di lokasi setempat. d) Pergelaran kesenian diberbagai Hotel berbintang, seperti Hotel Indonesia, Hotel President, Hotel Hilton, Hotel Horizon dsb. e) Pasanggiri tari kreasi Sunda di Gedung Kesenian Jakarta. f) Pergelaran tari kreasi dari berbagai negara dalam rangka Jakarta Festival (JakFest). g) Pergelaran tari kreasi dalam Acara Kalamatra Indonesia 2004 di Jakarta Convention Centre. h) Festival Tari Kreasi Sunda di GedungKesenian Jakarta. i) Festival Tari Nusantara di Banda Aceh Nangroe Aceh Darussalam
|
||
|
Sehubungan dengan
pengembangan kesenian, sejak awal tahun 1996 Diklat Kesenian Anjungan
Daerah Jawa Barat Taman Mini ”Indonesia Indah” mencoba menggarap
kesenian dari berbagai sumber. Adapun hasil garapan tersebut adalah : 1. Tari Kreasi Ronggeng Midang; Tarian ini merupakan tarian garapan dimana dalam alur geraknya mengambil dari tarian rakyat dan tari tayub seperti Banjet, Ketuk Tilu dan Silat sehingga tariannya bebas dengan laras pelog. Rakyat kecil mengenal kesenian Ronggeng sebagai bagian dari acara-acara pesta yang dilaksanakan di lapangan terbuka pada malam hari dengan penerangan berupa oncor (obor).Unsur tari Tayub sendiri dipergunakan sebagai penyelaras untuk mengekspresikan gerak tari, sedangkan Ketuk Tilu, Banjet dan Pencak Silat merupakan gerak tari yang dinamis. Dalam garapan tari Ronggeng Midang ini penata mencoba mengangkat salah satu sisi kehidupan dari Ronggeng itu. Pada umumnya mereka hidup dan berkembang di daerah perkebunan dan pesisir. Di daerah-daerah tertentu kesenian Ronggeng ini mempunyai sebutan/nama tersendiri, seperti, Ronggeng Gunung, Bangreng, Topeng, Doger Kontrak, Jagat Marung dan sebagainya |
||
|
2. Tari Kreasi Pangbage; Tari kreasi yang diketengahkan sebagai ungkapan rasa hormat dan gembira atas kedatangan para tamu. Kreasi tari ini sengaja dibuat dalam kaitannya mencoba untuk dapat memenuhi permintaan pada suatu upacara atau kegiatan yang gerak dan polanya disesuaikan dengan kebutuhan. Tari Pangbage ini dapat dikembangkan menjadi suatu prosesi upacara-upacara yang sifatnya tarian selamat datang. |
||
|
3. Tari Kreasi Ibing Dalung; Sebuah komposisi gerak yang diangkat dari jenis kesenian rakyat yaitu kesenian terbang dari Desa Jumleng Indramayu, tarian ini adalah sebagai sajian awal dalam sebuah perayaan, pesta atau hiburan dengan diiringi alat musik terbang serta diterangi Oncor (lampu); Oncor di daerah Indramayu disebut Dalung. Ibing Dalung mempunyai makna ungkapan gerak untuk mempersembahkan sinar kebersamaan, keindahan serta kegembiraan. |
||
|
4. Panganten Sunat Si Obon; yang bersumber dari kesenian longser. Panganten Sunat Si Obon yang bersumber dari kesenian longser; kesenian Longser yang sudah jarang sekali ditemukan diupayakan digali kembali dan dipergelarkan dengan mengungkapkan situasi dan kondisi masyarakat saat sekarang. Adapun sosok si Obon sendiri merupakan media yang tercermin dalam alur ceritera untuk dapat menyampaikan materi yang akan disampaikan |
||
|
5. Tari Kreasi Saktya Prahita; Dari perjalanan kehidupan Dayang Sumbi yang berusaha untuk menggagalkan niat anaknya dalam pencapaian keinginan dan keyakinan akan diri Sangkuriang. Pada suatu saat Sangkuriang bertemu dengan seorang perempuan tiada lain adalah Dayang Sumbi. Sangkuriang langsung jatuh cinta dan ingin mempersuntingnya; akan tetapi perempuan itu meyatakan laki laki itu adalah anaknya sendiri yakni Sangkuriang. Sangkuriang tidak menerima pernyataan itu, yang akhirnya dengan berat hati mau menerima lamarnya Sangkuriang dengan syarat harus membendung sungai menjadi danau dan sekaligus membuat perahunya sebelum mata hari terbit dalam satu malam harus sudah selesai, Sangkuriang menyanggupinya karena ia sudah mempunyai ilmu. Dayang Sumbi menjadi gelisah takut permintaannya dapat di selesaikan, maka dari itu Dayang Sumbi memohon kepada dewa agar diberi petunjuk agar pekerjaan Sangkuriang tidak selesai satu malam. Kesedihan yang meliputi jiwa Dayang Sumbi karena akan dipersunting oleh kekasihnya yang tiada lain adalah putranya sendiri itu serta kegelisahan yang dirasakan atas syarat yang diberikan untuk mewujudkan keinginan Sangkuriang. Namun akhirnya kegembiraanpun datang manakala permohonan kepada dewata terkabul dengan dikibarkannya Boeh Rarang pertanda persyaratan yang diberikannya tidak tercapai. |
||
|
6. Sendratari Ramayana dalam episode Shinta Labuh Geni; Dalam perang antara Rahwana dan Rama di Alengka, akhirnya Rahwana dapat dikalahkan sehingga Rama berhasil mendapatkan kembali Shinta. Namun Rama masih diliputi keraguan akan kesucian Shinta selama berada dalam cengkeraman Rahwana, Rama bersikeras untuk membuktikan kesucian Shinta maka Shintapun bersedia dibakar dalam api. Dilandasi dengan keyakinan yang mendalam tentang kebenaran suatu perjuangan, maka tidak ada hambatan yang tidak dapat diatasi dan Shintapun lolos dari api penguji, secara serta merta disambut gembira oleh Rama dan seluruh prajuritnya. |